Dalam dunia olahraga kompetitif yang menuntut performa fisik maksimal, sering kali aspek kesehatan jiwa terabaikan oleh para pelakunya. Padahal, hubungan antara Basket & Mental Health adalah dua sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan. Tekanan untuk menang, ekspektasi dari pelatih, hingga komentar pedas di media sosial sering kali menjadi beban berat bagi para pemain muda. Di Kalimantan Selatan, sebuah gerakan literasi psikologi olahraga mulai tumbuh di kalangan pemain lokal. Para atlet Banjarbaru kini mulai terbuka dalam mendiskusikan bagaimana mereka menghadapi tekanan mental agar tetap bisa tampil maksimal di lapangan tanpa harus mengorbankan kesejahteraan batin mereka.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah kecemasan sebelum bertanding (performance anxiety). Ketakutan akan melakukan kesalahan fatal atau mengecewakan tim bisa membuat otot menjadi kaku dan konsentrasi buyar. Untuk itu, para pemain di kota ini mulai menerapkan cara atasi stres melalui teknik meditasi dan visualisasi sebelum laga dimulai. Mereka diajarkan untuk fokus pada proses, bukan hanya pada hasil akhir. Dengan membayangkan gerakan-gerakan sukses di dalam pikiran, otak akan lebih tenang dan siap saat harus mengeksekusinya di lapangan nyata. Pendekatan ini terbukti efektif menurunkan tingkat kortisol yang menjadi hormon utama pemicu stres pada manusia.
Selain teknik pernapasan, dukungan sosial antar-rekan setim menjadi pilar penting dalam menjaga kesehatan mental. Di Banjarbaru, budaya saling menguatkan alih-alih saling menyalahkan saat terjadi kekalahan mulai diperkuat oleh para manajer klub. Lingkungan yang sehat secara emosional memungkinkan atlet untuk berkembang lebih cepat karena mereka tidak merasa takut untuk mencoba hal baru atau melakukan kesalahan saat latihan. Mereka menyadari bahwa basket hanyalah sebagian dari hidup mereka, bukan seluruh identitas mereka. Memiliki hobi di luar lapangan atau waktu berkumpul bersama keluarga tanpa membahas basket adalah cara ampuh untuk memberikan jeda bagi pikiran yang lelah.
Peran pelatih pun kini mulai bergeser tidak hanya sebagai pengatur taktik, tetapi juga sebagai mentor mental. Banyak klub di wilayah ini yang mulai bekerja sama dengan psikolog olahraga untuk memberikan sesi konseling berkala. Melalui sesi ini, atlet belajar mengenai manajemen waktu dan cara mengatasi rasa frustrasi saat sedang mengalami penurunan performa (slump).