Saat menghadapi pertahanan zona yang rapat, terutama zona 2-3 yang fokus menumpuk pemain di area bawah keranjang, teknik overloading adalah strategi paling efektif untuk menciptakan keunggulan jumlah penyerang di satu sisi lapangan. Konsep dasar taktik ini adalah menempatkan tiga atau empat pemain menyerang di area yang hanya dijaga oleh dua pemain bertahan zona, sehingga pertahanan lawan dipaksa untuk bergerak dan membuat keputusan cepat. Cara terbaik untuk mengeksekusi taktik ini adalah dengan memindahkan bola dengan cepat ke sisi lapangan yang padat tersebut, memaksa salah satu penjaga zona meninggalkan posisinya untuk menutup penyerang tambahan, yang akhirnya membuka ruang bagi pemain lain. Kecepatan operan adalah elemen kritis agar bola mencapai sisi yang overload sebelum pertahanan zona lawan sempat bergeser dan melakukan penyesuaian posisi.
Kunci keberhasilan taktik overloading terletak pada penempatan pemain yang tepat, di mana penembak tiga angka harus ditempatkan di sudut lapangan (corner), dan pemain yang lincah menembus ke dalam berada di area wing. Penyerang harus bergerak secara sinkron untuk memaksa pertahanan zona bergerak keluar dari zona nyaman mereka di bawah keranjang, membuka celah untuk tembakan jarak menengah atau layup terbuka. Pelatih harus menekankan bahwa saat sisi lapangan sudah padat, penyerang tidak boleh melakukan dribbling berlebihan yang justru membantu pertahanan lawan untuk menutup ruang tanpa harus berpindah posisi. Operan adalah senjata utama, dan pemain harus mampu melakukan operan cepat dan akurat ke rekan yang paling bebas setelah menarik perhatian pertahanan zona ke sisi padat tersebut.
Dalam situasi pertahanan zona lawan yang bergeser ke sisi overload, pemain yang berada di sisi lapangan yang kosong harus bersiap menerima operan jauh (skip pass) untuk tembakan tiga angka yang sepenuhnya terbuka. Taktik overloading ini juga menciptakan peluang bagi pemain post untuk mendapatkan posisi di area low post dengan sedikit penjagaan karena pertahanan terfokus ke sisi luar. Fleksibilitas pemain untuk berganti peran antara penembak luar dan penembus dalam sangat dibutuhkan agar pertahanan zona lawan tidak bisa memprediksi ke mana serangan akan diarahkan. Latihan rutin dalam menghadapi berbagai formasi zona akan membantu pemain memahami kapan harus menahan bola untuk memancing penjaga keluar dan kapan harus melepaskan operan cepat ke rekan yang bebas.
Komunikasi dan visi bermain menjadi elemen vital saat menggunakan taktik overloading, karena pemain harus sadar akan posisi rekan setim dan pergerakan pertahanan zona lawan setiap saat. Pemimpin serangan di lapangan harus mampu mengenali kapan pertahanan lawan sudah benar-benar terpecah konsentrasinya dan mengambil keputusan untuk menembak atau melakukan operan ekstra (extra pass). Kesabaran dalam mencari celah adalah kunci, karena teknik ini mungkin membutuhkan beberapa kali perpindahan bola dari sisi padat ke sisi kosong sebelum peluang emas benar-benar tercipta. Penguasaan taktik ini akan meningkatkan persentase tembakan tim secara signifikan karena peluang yang dihasilkan sering kali merupakan tembakan dengan akurasi tinggi dan sedikit gangguan dari penjaga lawan.