Cara yang paling efektif untuk meredakan nyeri ini dimulai dengan pemulihan aktif atau active recovery, alih-alih hanya berbaring di tempat tidur saat otot terasa kaku, atlet di Banjarbaru disarankan untuk melakukan aktivitas fisik intensitas sangat rendah, seperti jalan santai atau bersepeda statis selama 20 menit. Aktivitas ringan ini membantu memompa darah ke seluruh jaringan tubuh tanpa memberikan beban tambahan pada otot yang sedang meradang. Aliran darah yang lancar sangat penting untuk membawa oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk memperbaiki robekan mikroskopis pada serat otot yang terjadi selama sesi latihan berat.
Selain aktivitas fisik ringan, pengaturan nutrisi juga memegang peranan kunci dalam mengatasi nyeri otot (DOMS). Konsumsi protein yang cukup setelah latihan sangat membantu dalam proses rekonstruksi jaringan. Namun, di Banjarbaru, para pemain juga didorong untuk mengonsumsi makanan yang bersifat anti-inflamasi alami, seperti jahe atau kunyit yang mudah ditemukan di pasar lokal. Zat aktif dalam bahan alami tersebut membantu menekan peradangan dari dalam tubuh secara efektif. Selain itu, kecukupan asupan cairan dan elektrolit harus tetap terjaga karena dehidrasi dapat memperburuk sensitivitas saraf terhadap rasa nyeri yang muncul.
Terapi suhu juga menjadi pilihan populer di kalangan pemain basket di daerah ini. Penggunaan kompres hangat atau mandi air hangat setelah fase akut nyeri terlewati dapat membantu merelaksasi otot yang tegang dan meningkatkan fleksibilitas. Sebaliknya, jika nyeri baru saja muncul sesaat setelah sesi berakhir, penggunaan kompres dingin lebih disarankan untuk meminimalkan pembengkakan. Kombinasi antara pengetahuan medis sederhana ini dengan disiplin atlet dalam merawat tubuhnya sendiri menjadi faktor pembeda dalam kecepatan pemulihan mereka dibandingkan pemain di tempat lain.
Pihak kepelatihan di Banjarbaru juga menekankan pentingnya teknik self-myofascial release menggunakan bola tenis atau alat pijat mandiri. Dengan memberikan tekanan pada titik-titik pemicu nyeri (trigger points), atlet dapat melepaskan kekakuan pada selaput otot atau fasia. Cara ini sangat praktis dilakukan di rumah tanpa harus menunggu bantuan dari terapis profesional. Edukasi mengenai hal ini bertujuan agar setiap atlet basket memiliki kemandirian dalam menjaga kondisi fisiknya, terutama saat mereka harus menjalani periode latihan yang sangat padat menjelang sebuah turnamen besar.