Dalam olahraga bola basket, double dribble adalah salah satu pelanggaran fundamental yang seringkali terjadi secara tidak sengaja, terutama di kalangan pemain pemula atau mereka yang belum sepenuhnya memahami aturan permainan. Pelanggaran ini terjadi ketika seorang pemain menggiring bola, menghentikan dribelnya (dengan memegang bola menggunakan kedua tangan atau satu tangan di bawah bola), kemudian memulai dribel lagi. Akibatnya, penguasaan bola berpindah ke tim lawan, menghambat alur serangan dan momentum tim.
Pelanggaran double dribble sering kali bermula dari kebiasaan buruk dalam memegang bola setelah dribel. Pemain mungkin secara refleks meraih bola dengan kedua tangan setelah menghentikannya, padahal seharusnya mereka hanya bisa menembak, mengumpan, atau melakukan pivot setelah itu. Kesalahan lain adalah meletakkan telapak tangan di bawah bola terlalu lama saat menggiring, yang secara teknis dianggap sebagai “membawa bola” (carrying), dan jika dribel dilanjutkan setelah itu, akan dianggap double dribble.
Pada pertandingan liga basket pelajar yang diselenggarakan pada hari Minggu, 11 Mei 2025, di GOR Jaya Perkasa, tercatat beberapa insiden double dribble yang tak disengaja. Wasit yang bertugas dari Asosiasi Bola Basket Lokal, Ibu Devi Kartika, dalam laporan evaluasi pertandingan pada 13 Mei 2025, menyoroti bahwa sebagian besar pelanggaran tersebut terjadi karena pemain kurang fokus pada transisi antara dribel dan memegang bola. Mereka tidak menyadari bahwa dribel telah berakhir ketika tangan mereka menguasai bola sepenuhnya.
Untuk menghindari pelanggaran double dribble, pemain harus membiasakan diri dengan beberapa prinsip dasar. Pertama, setelah dribel dihentikan, bola hanya boleh dipegang dengan satu tangan di atas bola, atau dengan kedua tangan menguasai bola sepenuhnya. Setelah itu, pemain harus memilih antara menembak atau mengumpan. Kedua, saat menggiring bola, pastikan telapak tangan selalu berada di atas bola, mendorong bola ke bawah. Hindari membawa bola dengan tangan di bawahnya terlalu lama, karena ini akan dianggap sebagai carrying, dan jika dilanjutkan, akan menjadi double dribble.
Latihan yang efektif untuk menghindari pelanggaran ini melibatkan simulasi situasi pertandingan dan penekanan pada “akhir dribel”. Misalnya, di Akademi Bola Basket Prestasi, yang berlatih setiap Senin dan Rabu malam di Lapangan Basket Indor Pusat, mereka secara rutin melatih skenario di mana pemain harus menghentikan dribel dan segera melakukan tembakan atau umpan tanpa melanggar. Ini membantu pemain membangun memori otot yang benar dan mengurangi kemungkinan melakukan double dribble yang tak disengaja. Dengan pemahaman yang jelas dan latihan yang konsisten, setiap pemain dapat meningkatkan ball-handling mereka dan bermain sesuai aturan.