Prinsip Efisiensi Kinetik berfokus pada pemanfaatan momentum dan koordinasi rantai otot yang tepat. Seringkali, pemain basket pemula menggunakan kekuatan otot secara berlebihan pada area yang tidak diperlukan, seperti terlalu tegang di bagian bahu saat melakukan dribble. Di Banjarbaru, pelatih menekankan pada relaksasi otot yang tidak bekerja aktif. Dengan menjaga tubuh tetap lentur dan hanya mengaktifkan otot yang diperlukan, atlet dapat menjaga stamina mereka jauh lebih lama. Ini adalah seni bergerak secara ekonomis namun tetap memiliki daya ledak yang mematikan saat dibutuhkan.
Penggunaan Efisiensi Kinetik ini sangat terasa dalam pergerakan tanpa bola. Atlet di Banjarbaru diajarkan untuk membaca permainan sehingga mereka tidak perlu terus-menerus berlari dengan kecepatan penuh secara serampangan. Mereka belajar menentukan kapan harus melakukan sprint maksimal untuk memotong jalur lawan dan kapan harus bergerak dengan tempo sedang untuk mengatur napas. Efisiensi ini memungkinkan sistem metabolisme tubuh tetap bekerja dalam zona aerobik lebih lama, menunda penumpukan asam laktat yang biasanya menyebabkan kram dan kelelahan otot yang ekstrem.
Dalam kondisi intensitas tinggi, kemampuan untuk menjaga mekanisme gerak tetap stabil adalah tantangan besar. Ketika tubuh mulai lelah, otak cenderung mengirimkan sinyal gerak yang tidak teratur, yang berujung pada kesalahan teknis. Di pusat pelatihan Banjarbaru, latihan simulasi kelelahan dilakukan untuk melatih sistem saraf pusat agar tetap mempertahankan efisiensi gerak meskipun dalam kondisi oksigen rendah. Atlet dilatih untuk tetap melakukan teknik lay-up atau jump shot dengan formulasi mekanik yang benar, sehingga tidak ada energi yang terbuang sia-sia akibat kompensasi gerakan yang salah.
Faktor alas kaki dan permukaan lapangan juga menjadi perhatian dalam mengoptimalkan efisiensi ini. Di Banjarbaru, edukasi mengenai pentingnya footwork yang presisi membantu atlet mengurangi gesekan dan hambatan saat berakselerasi. Gerakan kaki yang bersih berarti lebih sedikit tenaga yang terbuang untuk mengerem atau berbelok. Dengan memperbaiki sudut langkah dan penempatan titik berat tubuh, pemain dapat bergerak seperti pegas yang menyimpan dan melepaskan energi secara efisien, memberikan mereka keunggulan kecepatan atas lawan yang bergerak secara kaku.